Senin, 21 Mei 2012

Hubungan Pemberian Imunisasi Campak Dengan Kejadian Penyakit Campak Pada Anak


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
       Upaya imunisasi diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Upaya ini merupakan upaya kesehatan masyarakat yang terbukti paling cost effective. Dengan upaya imunisasi terbukti bahwa penyakit cacar telah terbasmi dan Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun 1974. Mulai tahun 1997, upaya imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi dalam rangka pencegahan penulran terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu, tuberculosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B (Dep.Kes, 2006).
       Campak adalah penyakit yang potensial untuk menimbulkan wabah. penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi campak. Tanpa program imunisasi attack rate 93,5 per 100.000. Kasus campak dengan gizi buruk akan menimbulkan CFR. Masalah kematian campak di dunia yang dilaporkan pada tahun 2002 sebanyak 777.000 kematian dan 202.000 kematian berasal dari negara ASEAN, serta 15 % dari kematian campak tersebut terjadi di Indonesia. ( Dep.Kes, 2003 ).
Program imunisasi campak di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1984 dengan kebijakan memberikan 1 dosis pada bayi usia 9 bulan. Pada awalnya pemberian campak sebesar 12,7 % tahun 1984 kemudian meningkat sebesar 85,4% pada tahun 1990 dan bertahan pada 90,6 % tahun 2002. Pada tahun 2004 meningkat menjadi 91,8 % (Dep.Kes, 2006). Pada tahun 2003 WHO-SEARO membuat rencana strategi dan penanggulangan campak dengan tujuan utama untuk menurunkan angka kematian campak sebanyak 50 % pada tahun 2005 dibandingkan dengan tahun 1999. Strategi tersebut berupa akselarasi surveilans campak, status  imunisasi rutin tinggi (cakupan 90% di 100% Kabupaten) dan pemberian dosis kedua campak. ( Dep.Kes, 2004 ).
Berdasarkan data epidemiologis, di Indonesia didapatkan adanya akumulasi anak balita yang tidak mendapatkan imunisasi dan anak-anak yang tidak mendapatkan kekebalan setelah pemberian satu dosis vaksin campak. Hal ini antara lain disebabkan faktor efikasi vaksin rendah sehingga populasi kelompok ini rentan untuk terserang campak. Campak merupakan salah satu penyakit PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) dengan status imunisasi campak yang mencapai lebih dari 80 %, kasus campak diharapkan dapat menurun oleh karena terjadi kekebalan pada kelompok masyarakat, yang meningkatkan daya tahan tubuh. Dalam rangka mencapai target global imunisasi salah satunya adalah reduksi campak (recam) tahun 2007, oleh sebab itu diharapkan statusnya tetap tinggi baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga dapat menekan terjadinya campak merupakan indikator penilaian pelaksanaan imunisasi dan surveilans di suatu daerah (Dikes  NTB, 2011).
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, campak masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan melihat kasus tahun 2011 sebanyak 105 kasus dengan status imunisasi 97 %  dengan jumlah dan frekuensi paling banyak ditemukan di Kabupaten Lombok Timur dengan jumlah kasus 99 kasus dengan kejadian Kasus Campak di wilayah kerja Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela pada bulan Agustus 2011. Lokasi kejadian paling banyak ditemukan di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur yaitu sebanyak 35 kasus campak dengan cakupan imunisasi 92,9 %. Dari 35 kasus campak tersebut yang mempunyai riwayat imunisasi campak sebanyak 11 kasus ( 31,42 % ) dan yang tidak mempunyai  riwayat imunisasi campak 24 kasus ( 68,57 % ) (Dikes NTB, 2011).
Berdasarkan studi pendahuluan yang didapatkan tanggal 23 Maret tahun 2012, bahwa peneliti menemukan anak-anak yang menderita campak sebanyak 35 orang, pada dasarnya tidak ada riwayat pemberian imunisasi campak sebanyak 30 orang, namun peneliti juga menemukan bahwa ada anak-anak yang mempunyai riwayat imunisasi campak sebanyak 5 orang juga terkena penyakit campak, hal ini dapat saja terjadi tergantung kekebalan tubuh atau sistem imun anak itu sendiri.
Dari latar belakang tersebut diatas maka penulis ingin meneliti apakah ada hubungan status imunisasi campak dengan kejadian penyakit campak di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur Tahun 2011.             
1.2    Rumusan Masalah
          Dari data dan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah penelitian yaitu “Apakah ada  hubungan pemberian imunisasi campak dengan  kejadian  penyakit campak pada anak di wilayah kerja Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur tahun 2012 ?.
1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
         Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pemberian  imunisasi campak dengan kejadian penyakit campak pada anak di wilayah kerja Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur tahun 2012.
1.3.2        Tujuan Khusus
a.    Mengidentifikasi kejadian penyakit campak di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Tahun 2012.
b.    Mengidentifikasi pemberian imunisasi campak pada penderita campak di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Tahun 2012.
c.    Menganalisa hubungan pemberian imunisasi campak dengan kejadian penyakit campak pada anak di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela tahun 2012.


1.4    Manfaat Penelitian
          Manfaat penelitian adalah kegunaan hasil penlitian, baik bagi kepentingan pengembangan program maupun kepentingan ilmu pengetahuan. Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk :
1.4.1 Bagi Puskesmas
          Diharapkan penelitian ini bermanfaat sebagai informasi untuk membantu merumuskan langkah- langkah dalam menentukan kebijakan ataupun program- program khususnya dalam peningkatan upaya pelayanan kesehatan pada penderita campak di Wilayah Kerja Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur.
1.4.2   Bagi Masyarakat
Dapat mengetahui mamfaat imunisasi campak bahwa penyakit campak dapat dicegah dengan imunisasi campak dan bila terjadi campak segera berobat ke tempat pelayanan kesehatan, untuk pengenalan manfaat imunisasi lengkap terhadap.
1.4.3   Bagi pengembangan ilmu pengetahuan
a.    Dapat dijadikan informasi bagi akademik/pendidikan untuk kegiatan belajar mengajar tentang pentingnya pemberian imunisasi campak pada anak.
b.    Sebagai bahan masukan atau pertimbangan untuk penelitian lebih lanjut tentang kebutuhan pemberian imunisasi campak.
1.4.4   Bagi Peneliti
Meningkatkan pengetahuan tentang imunisasi campak terhadap kejadian penyakit campak.


 BAB II
LANDASAN TEORI

2.1    Anak
2.1.1        Definisi
Batasan umur seseorang masih dalam kategori anak, berdasarkan Undang-Undang RI. No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, pasal 1 ayat (2) menyebutkan bahwa : “Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu ) tahun dan belum pernah kawin.” (Saerodji, 2010)

2.2    Imunisasi
2.2.1        Definisi
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya (Halifah, 2010).
7
 
 

2.2.2        Tujuan imunisasi
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya (Halifah, 2010).
2.2.3        Macam - macam  imunisasi
Macam-macam / jenis-jenis imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi pasif yang merupakan kekebalan bawaan dari ibu terhadap penyakit dan imunisasi aktif di mana kekebalannya harus didapat dari pemberian bibit penyakit lemah yang mudah dikalahkan oleh kekebalan tubuh biasa guna membentuk antibodi terhadap penyakit yang sama baik yang lemah maupun yang kuat (Halifah, 2010).
2.2.4        Tehnik atau cara pemberian imunisasi
Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum / telan. Setelah bibit penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membantuk antibodi. Antibodi itu uumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk melawan penyakit yang mencoba menyerang (Halifah, 2010).

2.3    Imunisasi Campak
2.3.1        Definisi
Imunisasi campak adalah suatu keadaan tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin campak dalam tubuh bayi usia antara 9 sampai 11 bulan dan  pada usia 6 sampai 7 tahun ( kelas 1 SD ). (Dikes NTB, 2011 ).
2.3.2        Tujuan Imunisasi Campak
Pada hakekatnya tujuan dari imunisasi campak adalah pencegahan penyakit. campak, juga teercapainya Universal Child Immunization (UCI campak 80 %). Pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare yang sering timbul menyertai campak ( Dikes NTB, 2011).
2.3.3        Vaksin Campak
Vaksin campak merupakan virus hidup yang dilemahkan. efikasi vaksin campak 90 %, tidak semua orang atau sasaran yang mendapatkan imunisasi campak menjadi kebal, yang menjadi kebal hanya 90 %. Untuk mengetahui efikasi vaksin dapat dihitung sebagai berikut :

                                 AR tidak diimunisasi – AR diimunisasi
Efikasi vaksin campak =                                                                      x 100%
                                                  AR tidak diimunisasi

2.3.4   Cara pemberian imunisasi campak
Vaksin campak merupakan virus measles yang sudah dilemahkan tingkat virulensinya yang dimasukkan ke dalam tubuh seorang anak sebagai antigen yang nantinya akan membentuk antibody setelah melalui proses reaksi imun. Imunisasi campak diberikan sekurang-kurangnya / minimal pada anak usia 9 bulan dengan dosis 0,5 cc injeksi via sub kutan (FKUI, 1997).

2.4         Penyakit Campak
2.4.1        Definisi Campak
Penyakit campak adalah penyakit menular dengan gejala kemerahan dengan bentuk makula popular selama tiga hari atau lebih yang sebelumnya didahului panas badan 38 ºC atau lebih juga disertai salah satu gejala batuk pilek atau mata merah ( FKUI, 1997).
Kasus campak konfirmasi ialah kasus campak klinis disertai salah satu kriteria :
a.    Pemeriksaan laboratorium serologis ( IgM + atau kenaikan titer antibody 4 kali) dan atau isolasi virus campak + .
b.    Kasus camapak yang mempunyai kontak langsung dengan kasus konfirmasi dalam periode 1 –  2 minggu.
2.4.2        Gambaran Klinis
Campak mempunyai gejala klinis demam kira-kira 38 ºC, koplik’s spot  (gejala kemerahan) setelah satu minggu sampai satu bulan berubah menjadi hitam (hyperpigmentasi) dan kulit menjadi bersisik, batuk pilek dan atau mata merah. Sering terjadi pada kasus yang berat adalah komplikasi seperti diare dan bronchopneumonia. Kematian sering terjadi pada kasus campak dengan komplikasi pneumonia, diare dan kurang gizi serta karena penanganan yang terlambat ( Habel, 1990 ).
2.4.3        Epidemiologi Penyakit Campak
Penyakit campak merupakan penyakit yang sangat menular (infeksius) manusia merupakan satu-satunya induk semang (Host) sehingga dapat dieradikasi atau dibasmi dari muka bumi (Noor, 2002 ).
2.4.4        Penyebab
Campak disebabkan oleh virus campak golongan Paramyxopiridae (RNA), jenis Morbilivirus yang mudah mati karena panas dan cahaya (Dep Kes RI, 2008).
2.4.5        Cara penularan
Menurut DepKes RI (2008), cara penularan penyakit campak adalah :
1.       Penularan terutama melalui batuk, bersin (sekresi hidung).
2.       Dapat mulai menularkan 1 – 3 hari sebelum panas sampai 4 hari setelah timbul rash (ruam kemerahan).
3.       Puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1– 3 hari pertama sakit
2.4.6        Masa inkubasi
Masa inkubasi 8 – 13 hari, rata-rata 10 hari (DepKes RI, 2008).
2.4.7        Gejala dan  tanda-tanda
Menurut DepKes RI (2008), tanda dan gejala dari campak adalah sebagai berikut :
1.        Panas badan lebih dari 38 ºC selama tiga hari atau lebih, disertai salah satu atau lebih gejala : batuk, pilek, mata merah, mata berair.
2.        Khas ( Pathogonomonis) ditemukan koplik’s spot atau bercak putih keabuan dengan dasar merah di pipi bagian dalam (mukosa bucal).
3.        Bercak merah atau rash yang dimulai dari belakang telinga atau tubuh berbentuk macula papula selama 3 hari atau lebih, beberapa hari ( 4 -7 hari) ke seluruh tubuh kemudian bercak merah mejadi kehitam-hitaman disertai kulit bersisik 
2.4.8        Diagnosa banding
1.       Rubella ( campak Jerman ) : terdapat pembesaran getah kelenjar bening di belakang telinga.
2.       DHF atau DBD : 2 – 3 hari bisa terjadi mimisan, turniket test (Rumple Leede) positif, perdarahan yang diikuti shock, laboratorium menunjukkan trombosit < 100.000/ML dan serologis positif DHF ( specimen akut dan specimen penyembuhan).
3.       Cacar air ( Varichella) : ditemukan vesicula atau gelelmbong berisi cairan.
4.       Alergi obat : kemerahan di tubuh setelah minum obat atau di suntik, di sertai gatal-gatal.
5.       Miliaria atau keringat buntet: gatal-gatal, bintik kemerahan
2.4.9        Komplikasi Penyakit Campak
Komplikasi biasanya terjadi pada anak balita, terutama pada anak-anak dengan gizi kurang. Komplikasi yang sering terjadi adalah bronchopneumonia, gastroentritis, Pnemonia dan otitis media, sedangkan encephalitis jarang terjadi tetapi fatal. Komplikasi ini biasanya muncul pada hari ke 5 – 10 sakit, penularan selesme hingga 7 hari setelah timbul ruam ( FKUI, 1997 ).
Komplikasi ini dapat dibedakan menjadi 2 bagian yakni :
1.      Akut :
a.    Febrile convulsion ( kejang-kejang karena suhu yang tinggi )

b.    Viral encephalitis
2.      Tidak Akut
a.       Komplikasi tidak langsung ( komplikasi dini ).
Chronic malnutrition, kwarsiorkor, xeropthalmia dan tuberculosis
b.      Komplikasi Langsung.
1)      Bronchopnemonia, sering menyebabkan kematian
2)      Otitis Media
3)      Diare
4)      Malnutrisi
5)      Kebutaan
6)      Ulkus mukosa mulut
7)      Encephalitis
2.4.10    Faktor Resiko Kejadian Campak
Adapun faktor resiko kejadian  campak menurut WHO,1994 (FKUI, 1997) adalah antara lain :
1.    Sanitasi Lingkungan
Adalah suatu upaya yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan fisik yang berpengaruh pada manusia, terutama hal-hal yang mempunyai efek merusak perkembangn fisik, kesehatan dan kelangsungan hidup dan merupakan faktor penentu derajat kesehatan masyarakat  
2.   Hygiene Prorangan
Adalah suatu upaya yang menitik beratkan pada kesehatan individu dilakukan untuk menjaga kebesihan dan kesehatan individu yaitu kebersihan diri sendiri yang merupakan faktor untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
3.   Status Gizi
Suatu keadaan dari akibat keseimbangan antara komsumsi dari penyebaran zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut atau keadaan fisiologik akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh.
Sedangkan faktor resiko terjadinya mortalitas atau kematian akibat campak disebabkan karena adanya komplikasi antara lain diare dan penanganan yang terlambat.










 
BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

3.1    GAMBAR KERANGKA KONSEP
          Kerangka konseptual hubungan imunisasi campak dengan kejadian penyakit campak pada anak :
 








 
Keterangan  :         
                            : Variabel yang diteliti
                            : Variabel yang tidak diteliti
                            : Berhubungan
Sember : Modifikasi dari Setiadi (2007).
  

3.2    KERANGKA KONSEPTUAL          
          Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu tehadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti (Setiadi, 2007). Kerangka konsep pada penelitian ini merupakan hubungan antara variabel pemberian imunisasi campak dengan variabel kejadian penyakit campak.

3.3    Definisi Operasional
          Definisi operasional adalah unsur penelitian yang menjelaskan bagaimana caranya menentukan variabel dan mengukur suatu variabel, sehingga definisi operasional ini merupakan suatu informasi ilmiah yang akan membantu peneliti yang ingin menggunakan variabel yang sama (Setiadi, 2007).
          Variabel bebas adalah variabel yang kedudukannya mempengaruhi kedudukan variabel lain, sedangkan variabel tergantung adalah variabel yang kedudukannya dipengaruhi oleh adanya variabel lain (Notoatmodjo, 2010).
          Definisi operasional merupakan penjelasan semua variabel dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian secara operasional sehingga akhirnya mempermudah pembaca dalam mengartikan makna penelitian (Setiadi, 2007). Adapun definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :


No
Variabel
Definisi Operasional
Parameter
Alat Ukur
Skala Data
Skor
1
Pemberian Imunisasi Campak 
Tindakan pemberian kekebalan tubuh dengan memasukkan vaksin campak 0,5 cc injeksi per sub kutan.

Dari buku status imunisasi dan buku KMS

Mendapat  vaksinasi  campak 

Tidak mendapatkan vaksinasi campak
buku KMS
Nominal
Mendapatkan imunisasi campak :
1.   Ya = 1
2.   Tdk = 0         
2
Kejadian Penyakit Campak
Semua yang mengalami gejala seperti campak di Desa Pengadangan Kecamatam Pringgasela Kabupaten Lombok Timur
Ada gejala campak

Tidak ada gejala campak
Data kejadian campak
Nominal
1. Ada gejala = 1
2. Tidak ada gejala = 0

3.4    Hipotesis :
H0 :      Tidak ada hubungan   pemberian imunisasi campak dengan kejadian penyakit campak di wilayah kerja Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur tahun 2011.
Ha :      Ada hubungan pemberian imunisasi campak dengan kejadian penyakit campak di wilayah kerja Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur tahun 2011.





 
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1         Desain Penelitian
          Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian case control yaitu suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana variabel bebas/faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospektif. Dengan kata laian efek/variabel tergantungnya diidentifikasi saat ini, kemudian faktor resiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu lalu (Setiadi, 2007).
Riwayat Imunisasi campak ( + )
       Kasus Campak
 Riwayat Imunisasi campak ( - )
Gambar 4.1 Rancangan desain penelitian

4.2         Lokasi dan waktu Penelitian
4.2.1        Lokasi Penelitian :
Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok TimurProvinsi Nusa Tenggara Barat.
4.2.2        Waktu Penelitian :
Penelitian dilakukan pada bulan Juni -  Juli  2012.
4.3         Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1        Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2010).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita campak di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur pada tahun 2011 sebanyak 35 anak penderita campak.
4.3.2        Sampel
Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010).
Sampel yang diambil adalah total populasi penderita campak sebanyak 35 anak penderita campak

4.4         Prosedur Pengambilan Data
            Dalam pengambilan data, langkah-langkah yang diambil adalah :
4.4.1        Tahap persiapan
4.        Meminta izin pengambilan data dan penelitian dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas  Mataram.
5.        Meminta surat izin pengambilan data dan penelitian pada BAPEDA Kabupaten Lombok Timur.
6.        Meminta data penderita campak di Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur tahun 2011.
4.4.2        Tahap pelaksanaan
2.        Melihat dan menganalisa format C.1 atau buku KMS.
3.        Melakukan rekapitulasi data yang ditemukan pada format C.1 atau pada buku KMS.

4.5    Pengumpulan Data
          Setelah mendapat izin pengambilan data dari Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram dan Kepala BAPEDA Kabupaten Lombok Timur maka peneliti melakukan pendekatan kepada seluruh responden untuk mengambil data. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner untuk variabel pemberian imunisasi campak, kemudian untuk variabel efek dapat dilihat dari data kejadian penyakit campak tahun 2011 di Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timr.

4.6    Instrumen Penelitian
          Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmodjo, 2010). Dalam penlelitian ini instrumen yang digunakan adalah format C.1 atau melihat langsung pada buku KMS untuk mengukur variabel pemberian imunasi campak, sedangkan untuk variabel efek yaitu kejadian penyakit campak dilihat dari data kejadian penyakit campak tahun 2011 di Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timr.
4.7    Pengolahan Data
Pengolahan data pada penelitian ini akan dilaksanakan dengan tahap-tahap sebagai berikut :
1.      Editing/memeriksa
Editing adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para pengumpul data (Setiadi, 2007). Dalam penelitian ini alat ukur yang digunakan adalah dengan meninjau pada format C.1 atau pada buku KMS, oleh karena itu editing dilakukan dengan cara meninjau ulang dengan teliti format C.1 atau buku KMS sehingga data yang didapatkan benar-benar valid.
Editing dilakukan di tempat pengumpulan data sehingga bila terdapat kekurangan dapat segera dilengkapi.
2.      Memberi tanda kode/koding.
Koding adalah mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden ke dalam kategori. Biasanya klasifikasi dilakukan dengan cara memberi tanda/kode berbentuk angka pada masing-masing jawaban (Setiadi, 2007). Kode yang diberikan jika anak mendapat imunisasi campak (Ya) adalah 2 dan kode untuk jawaban yang diberikan jika anak tidak mendapat imunisasi campak (Tidak) adalah 1.
3.      Pemasukan data/entry data
Memasukkan data, boleh dengan cara manual atau melalui pengolahan komputer (Setiadi, 2007). Pada penelitian ini, jawaban-jawaban yang sudah diberi kode kategori kemudian dimasukkan dalam tabel dengan cara menghitung frekuensi data dari masing-masing variabel.

4.8    Analisa Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis bivariat. Menurut Notoatmodjo (2010), analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi.
            Dalam penelitian ini uji statistik yang digunakan adalah uji statistik Chi Square dengan df (degree of freedom) = 1, berdasarkan uji statistik tersebut dapat diputuskan Ho diterima bila nilai X2h < α = 5%, sebaliknya Ha diterima bila nilai X2h > α = 5%. Menurut Santjaka (2011), untuk menentukan kekuatan korelasi antara kedua variabel maka hasil hitung uji Chi Square dilanjutkan dengan uji Koefisien Asosiasi (uji phi/Æ). Penafsiran kekuatan korelasinya pada range nilai 0 s/d 1, dengan kriteria sebagai berikut :
1.    Koefisien asosiasinya 0 berarti tidak ada hubungan sama sekali.
2.    Koefisien asosiasinya < 0,5 kategori hubungan lemah.
3.    Koefisien asosiasinya > 0,5 kategori hubungan kuat.
4.    Koefisien asosiasinya H·0,5 kategori hubungan moderat (0,46 – 0,55).
5.    Koefisien asosiasinya 1 kategori hubungan sempurna.


4.9         Etika Penelitian
Menurut Setiadi (2007), dalam melakukan penelitian, peneliti harus memperhatikan masalah etika yang meliputi :
4.9.1        Informed consent (lembar persetujuan)
Lembar persetujuan ini diberikan dan dijelaskan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi criteria inklusi dan disertai judul penelitian serta manfaat penelitian dengan tujuan responden dapat mengerti maksud dan tujuan penelitian. Bila subyek menolak maka peneliti tidak memaksa, tetap menghormati hak-hak subyek.
4.9.2   Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek, peneliti tidak akan mencantumkan nama subyek pada lembar pengumpulan data yang diisi subyek, tetapi lembar tersebt hanya diberikan kode tertentu.
4.9.2        Confidentiality (Kerahasiaan)
Kerahasian informasi yang diberikan responden dijamin peneliti, hanya kelompok tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

4.10Jadwal Kegiatan Penelitian
            Dalam bagian ini diuraikan langkah-langkah kegiatan dari mulai menyusun proposal penelitian sampai dengan penulisan laporan, beserta waktu berjalannya atau berlangsungnya tiap kegiatan tersebut (Setiadi, 2007).
            Penelitian ini akan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. Adapun lamanya penelitian yang akan dilakukan peneliti selama tujuh bulan terhitung mulai bulan Februari sampai dengan Agustus 2012, dengan rincian sebagai berikut :
1.        Persiapan proposal dan studi pustaka pada bulan Februari 2012 minggu ke I s/d IV sampai dengan bulan April 2012 minggu ke I s/d III.
2.        Melaksanakan seminar proposal pada bulan Mei 2012 minggu ke III.
3.        Melaksanakan observasi dan penelitian pada bulan Juni minggu ke I s/d IV – Juli 2012 minggu ke I s/d II.
4.        Melaksanakan pengolahan data pada bulan Juli 2012 minggu III s/d IV.
5.        Penulisan dan penyusunan KTI pada bulan Agustus 2012 minggu ke I s/d ke II.
6.        Melaksanakan ujian hasil penulisan (KTI) pada bulan Agustus 2012 minggu ke III.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar